Rabu, 11 Maret 2009

Hakekat mencintai rasulullah saw

Seperti yang telah kita ketahui, Nabi Muhammad saw. adalah sosok panutan yang paling dicintai oleh setiap kaum Muslim, di mana pun n’ kapan pun. Tapi, meski setiap Muslim sama-sama cinta dengan Beliau…, tetap saja wujud kecintaan itu diekspresikan dalam bentuk yang berbeda-beda dan dengan berbagai cara menurut pemahaman masing-masing kaum muslimin. Ada yang meneladani perilaku Beliau dalam aspek-aspek tertentu saja, ada juga yang berusaha meneladani Beliau secara keseluruhan, mulai dari pemikiran, kepribadian, sampai pada kebiasaan Beliau yang menjadi suri tauladan ummat.

Berbicara tentang cinta, pencinta sejati harusnya tahu bagaimana mengekspresikan rasa cintanya dengan orang yang dicintainya. Yang tidak kalah penting lagi, pencinta sejati harusnya tahu ekspresi cinta seperti apa yang disukai sekaligus dikehendaki oleh orang yang dicintainya itu… Karena…boleh jadi seseorang sangat mencintai orang lain, tapi perasaan cintanya itu malah diekspresikan dengan cara yang ga disukai sama orang yang dicintainya itu….Akibatnya,,,jangankan cintanya diterima, dia malah mungkin bakalan dibenci sama orang yang dicintainya itu…

Itulah…yang juga mestinya dipahami oleh setiap Muslim yang mengklaim mencintai Nabi saw. Karena itu, berbarengan dengan masuknya bulan Rabi’al-Awwal tahun ini, bulan yang diyakini sebagai bulan kelahiran Nabi saw., Buletin Al-Hikmah AMBH edisi kali ini sengaja mengangkat tema di seputar metode mencintai Nabi saw. Tujuannya ga lain supaya kaum Muslim bisa mengekspresikan kecintaannya sama Beliau dalam wujud yang emang disukai plus dikehendaki sama Beliau sendiri, sekaligus dalam kadar yang optimal, ga setengah hati, apalagi minimalis. Sebab,,,cinta sejati ,termasuk sama Nabi saw.,tentu aj adalah cinta yang sepenuh hati n’ maksimal.

Nah,,,supaya metode kecintaannya bener, otomatis kita mesti tahu gimana sebenarnya sosok beliau,,,,seperti pepatah “kalo nggak kenal maka ga sayang, kalo ga sayang maka ga cinta,n’ kalo ga cinta maka ga rindu…” Artinya lagi kita mesti tahu n’ kenal karakter Beliau, tentunya nggak sekedar itu saja, kita juga harus meneladani Beliau dalam segala aspek kehidupan kita sebagai bentuk kecintaan kita. Sebagaimana yang diperintahkan Allah dalam al-Qur;an :

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian. (QS al-Ahzab [33]: 21)”

Yang pertama yang mesti kita teladani adalah kepribadiannya yang agung dan berakhlak mulia, untuk melukiskan tentang akhlak baginda Nabi, kayaknya nggak cukup cuma dengan halaman-halaman di buletin kecil mungil ini. Suer, nggak cukup... Sebab, pribadi yang agung n’ mulia ini sudah banyak bgt memberikan perubahan yang besar dalam tata kehidupan ummat manusia di dunia ini. Paling-paling cuma beberapa kejadian atau peristiwa aja yang bisa kita tulis di sini, selebihnya, kita nggak bisa melukiskan dengan kata-kata. Tentu, karena saking mulianya beliau Trus yang kedua adalah meneladani perjuangannya, hal ini juga mencakup bagaimana meneladani sifat kepemimpinan beliau dalam memimpin diri sendiri, sebagai kepala rumah tangga, dan tentunya sebagai kepala Negara. Rasulullah saw. adalah pemimpin segala bidang. Ia pemimpin umat di masjid,di dalam pemerintahan, juga di medan pertempuran. Ia keliatan seperti psikolog yang mengubah jiwa manusia yang biadab menjadi beradab. Ia juga seorang politikus yang berhasil yang menyatukan suku-suku bangsa hanya dalam waktu kurang dari seperempat abad.

Begitulah seharusnya kita menunjukkan kecintaan kita sama beliau, rasa cinta kepada Rasulullah saw. Benar-benar dangkal rasanya kalau cuma diungkapkan dalam acara-acara ritual seperti peringatan mengenang kelahiran beliau. Kecintaan kayak gini nggak bermakna apa-apa jika dalam aspek kehidupan nyata, ajaran yang dibawa sama beliau justru banyak ditinggalin.

Mesinya kita mengingat bagaimana besarnya kecintaan beliau kepada kita umatnya, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Anas bin malik, Rasulullah shollallahu 'alahi wa sallam bersabda, "Alangkah rindunya aku untuk berjumpa dengan saudara-saudaraku." Lalu seorang sahabat bertanya, "Bukankah kami-kami ini saudaramu ya Rasul?" Rasul menjawab, "Benar, kalian adalah sahabat-sahabat/saudaraku. Adapun yang kumaksud adalah dengan saudara-saudaraku itu adalah kaum yang datang sesudahku dan beriman kepadaku padahal mereka tidak pernah berjumpa denganku."

SubhanAllah... Dari ucapannya melalui hadits di atas aj sudah ketahuan kalo beliau sebegitu rindunya sama kita-kita ini ummatnya yang hidup jauh dari masanya dan rindunya itu adalah sebuah penghargaan buat kita. Beliau menghargai kita karena sampai saat ini kita masih beriman padanya meski nggak pernah sekalipun berjumpa secara langsung menatap wajahnya. Begitulah…Rasulullah manusia special yang dimulaikan Allah dengan segala budi pekertinya yang amat luhur n’ terpuji, sesuai dengan namanya "Muhammad" yang punya arti "insan yang terpuji".

Di sisi lain beliau juga nggak cuma rindu sama kita ummatnya, tapi sangat peduli. Coba aj kita ingat cerita sama akhir hidupnya ketika ajal menjelang, beliau amat mempedulikan ummatnya. Pada detik-detik terakhir ruh akan lepas dari raga, lisannya berucap "ummati...ummati...ummati". Sungguh peristiwa itu sebuah pemandangan diluar kebiasaan manusia umum, disela-sela rasa sakit, beliau Nabi shollallahu 'alahi wa sallam. masih sempat aj terfikir sama keadaan ummatnya selepas beliau wafat. Bayangin deh...andai aj kita saat itu sempat menyaksikan peristiwa tsb, sudah pasti itu bakalan jadi salah satu peristiwa yang amat mengharukan dalam sejarah hidup kita.

Masih dalam keadaan sakaratul mautnya, dari peristiwa itu juga kita bisa lihat kecintaan Rasulullah sama ummatnya. Saat badan mulai dingin, kaki dan dadanya sudah nggak bergerak lagi, dari bibir yang senantiasa basah menyebut asma-Nya, terucap sebuah permohonan yang amat memilukan hati "Ya...Allah, dasyat nian maut ini. Timpakan saja semua maut ini (baca:rasa sakitnya) kepadaku, jangan pada ummatku". SubhanAllah...sungguh terpuji akhlaqmu ya Rasul.

Tapi apa yang terjadi saat ini ?! mungkin di antara kita masih ada yang biasa-biasa aj terhadap Rasulullah. Sholawat jarang terlantun dari lisan dan kerap kali meninggalkan sunnah-sunnahnya. Bukan kah sejatinya kita pun merasa rindu dan berterima kasih padanya dengan memperbanyak sholawat dan slalu berusaha menjalankan sunnah-sunnahnya dengan baik. Karena bisa dibayangin keadaan kita saat ini tanpa Rasulullah hadir di dunia ini, pastinya kita bakalan hidup dalam kegelapan, arah tujuan hidup nggak jelas n’ akhlaq kita pun akan jauh dari nilai-nilai kemuliaan.

Trus…Cinta kepada Baginda Nabi saw. tentu aj nggak boleh sekadar klaim; itu mesti diwujudkan dalam perilaku keseharian. Apa dan gimana perwujudan hakiki dari kecintaan kepada Baginda Nabi saw.? nggak lain dengan cara meneladaninya. Apalagi Allah SWT sudah memerintahkan hal ini:

Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagi kalian. (QS al-Ahzab [33]: 21).

Allah juga sudah mengaitkan upaya meneladani n’ mengikuti Rasul saw. sebagai bukti kecintaan kepada-Nya:

Katakanlah (Muhammad), “Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku nsicaya Allah akan mencintai kalian.” (QS. Ali-Imran [3]: 31).

Trus…gimana cara mengikuti Rasul itu? Nggak lain dengan menaati Beliau. Ketaatan kepada Rasul saw. pada dasarnya merupakan perwujudan ketaatan kepada Allah SWT:

مَّSiapa saja yang menaati Rasul sesungguhnya ia telah menaati Allah. (QS an-Nisa’ [4]: 80).

Gimana pula cara menaati Rasul saw. itu? Nggak lain dengan menaati seluruh risalah (syariat) yang Beliau bawa sekaligus ngikutin jejak Beliau dalam menegakkan dan menyebarluaskan risalah (syariah) tersebut sama seluruh umat manusia. Dengan kata lain, esensi cinta kepada Nabi saw. adalah: (1) taat syariah; (2) mengemban risalah (dakwah).

Trus lagi…Kepemimpinan Rasulullah nggak cuma menggunakan akal n’ fisik, tapi Beliau memimpin dengan kalbunya karena hati nggak akan pernah bisa disentuh kecuali dengan hati. Rasulullah menabur cinta kepada sahabatnya sampai setiap orang bisa merasakan tatapannya dengan penuh kasih sayang, tutur katanya yang rahmatan lil alaamiin, n’ perilakunya yang bgt menawan. Seorang pemimpin yang hatinya hidup bakal selalu merindukan kebaikan, keselamatan, kebahagiaan bagi yang dipimpinnya.

Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang bisa berkhidmat dengan tulus n’ menafkahkan jiwa raganya untuk kemaslahatan umat. Ia berkorban dengan mudah n’ ringan karena merasa itulah kehormatan menjadi pemimpin, bukan mengorbankan orang lain. Pemimpin budiman nggak berpikir apa yang akan dia dapatkan dari umat, tetapi apa yang bisa dia berikan kepada umat.

Hal penting yang bisa kita lakukan adalah memimpin diri sendiri. Jangan biarkan diri kita menjadi hina karena mata yang nggak terjaga atau karena tutur kata yang penuh kesombongan. Ayo… kita tundukkan hati n’ maknai hidup dengan berkhidmat kepada orang lain, karena sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya. Rasulullah Muhammad saw. Adalah pribadi yang agung, yang teladan-teladannya terus hidup dalam dada kita, kaum Muslimin hingga akhir zaman. ALLAHUAKBAR…!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar